Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2015

Kebun Raya Baturaden(Proposal Praktek Kerja Lapangan)

Akhirnya Yudisium jg... Selangkah lagi Wisuda dan lulus.... eh malah nemu laporan PKL zaman bahela....

Konservasi Eks Situ Nephenthes sp. di Kebun Raya Baturaden

I.    PENDAHULUAN
Pemerintah telah menetapkan bahwa Nepenthes sp. termasuk salah satu spesies tumbuhan prioritas dilindungi karena keberadaannya di alam cenderung terancam punah. Tanaman Nepenthes memiliki habitat di hutan-hutan sebagai tanaman liar. Kelestarian Nepenthes akhir-akhir ini semakin terancam. Kepunahan Nepenthes pun bisa terjadi jika hal ini tidak ditanggulangi. Usaha konservasi ex-situ perlu dilakukan (Dinarti et al., 2010)
Spesies dilakukan upaya perlindungan untuk menjaga spesies tidak punah. Salah satunya dibangun Kebun Raya Baturaden sebagai tempat konsevasi tanaman yang mulai langka tersebut. Kebun Raya Baturraden memiliki berbagai potensi flora yang masih alami. Flora tingkat rendah hingga tingkat tinggi terdapat disana dan yang dapat dijadikan komoditi utama juga sangat banyak, misalnya pohon pinus (Pinus mercusii). Kebun Raya Baturraden memiliki fungsi sebagai tempat konservasi berbagai spesies tumbuhan. Tumbuhan yang dikoleksi diantaranya Aracaceae, Orchidaceae, Pteridophyta, Tanaman Langka, Tanaman Obat, Bambu (Bamboo calamus) dan pembibitan tanaman. Pengkoleksian tumbuhan tersebut dimaksudkan untuk pelestarian agar tidak terjadi kepunahan terhadap tumbuhan - tumbuhan tersebut khususnya tumbuhan endemik Gunung Slamet. Pelestarian flora yang ada disana akan melindungi kekayaan spesies yang berada di tempat tersebut. Lokasi Kebun Raya Baturraden terletak di Desa Kemutuk Lor, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Salah satu jenis tanaman langka yang ditanam di Kebun Raya Baturraden adalah kantong Semar atau Nephenthes sp. (Pudjiharta, 2009).
Kata Nephentes berasal dari bahasa Latin, yang berarti gelas anggur. Nama tersebut pertama kali digunakan oleh J.P. Bryne (1689), ketika membuat deskripsi berbagai jenis tumbuhan yang berasal dari Srilangka. Kantong semar termasuk pada divisi Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, ordo Caryophyllales, keluarga Nepenthaceae dan genus Nephentes. Beberapa spesies kantung semar diantaranya Nepenthes adrianii, N. ampullaria dan N. rafflesiana (Higashi et al., 1992).
Kantong semar (Nephentes sp.) merupakan tumbuhan yang mampu mencerna serangga yang terjebak dalam kantung pada ujung sulur daunnya, sehingga dapat digolongkan dalam tumbuhan insektivora. Serangga tersebut dijadikan sebagai sumber nutrisi, terutama sebagai sumber protein dan nitrogen, yang tidak didapatkan tumbuhan tersebut dari tanah yang menjadi habitatnya (Mansur, 2006).
Tumbuhan karnivora seperti kantong semar tumbuh di tanah yang miskin unsur hara, seperti di tanah kapur, tanah berpasir, tanah merah, dan tanah gambut. Pada umumnya, jenis tanah tersebut kekurangan unsur nitrogen dan fosfor. Kekurangan unsur hara menyebabkan tumbuhan tersebut mengubah ujung sulur daunnya menjadi kantung untuk menangkap serangga atau binatang kecil sebagai sumber nutrisinya. Sulur daunnya dapat mencapai permukaan tanah atau menggantung pada cabang-cabang ranting pohon yang berfungsi sebagai pipa penyalur nutrisi dan air. (Mansur, 2006).
Perbanyakan tanaman Nepenthes dilakukan selama ini adalah dengan menggunakan biji, stek maupun pemisahan anakan. Cara perbanyakan melalui stek terbatas dari jumlah buku dan memerlukan waktu yang relatif lama untuk menyiapkan tanaman induk siap stek. Perbanyakan melalui biji memerlukan waktu yang cukup lama yaitu sekitar dua tahun, sedangkan metode perbanyakan dengan pemisahan anakan terbatas pada sedikitnya jumlah anakan yang terbentuk. Salah satu teknologi alternatif yang dapat dilakukan adalah menggunakan teknik kultur jaringan atau in vitro. Melalui teknik kultur jaringan atau in vitro dapat menghasilkan tanaman Nepenthes dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang relatif singkat (Samsurianto, 2010)
Tujuan dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah mengetahui cara perbanyakan dan mengamati konservasi Nephenthes sp. di Kebun Raya Baturaden.




II.  MATERI DAN METODE
A.       Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan mengenai “Konservasi Ex-situ Nephentes sp. di Kebun Raya Baturraden Kabupaten Banyumas” antara lain, kamera digital, kertas, dan alat tulis.
Bahan-bahan yang digunakan antara lain tanaman dari Marga Nepenthes, yaitu N. adrianii, N. mirabilis, N. gymnomphora, N. ampularia, dan N. rafflesiana.
B.       Lokasi dan Waktu Praktek Kerja Lapangan
Praktek Kerja Lapangan ini akan dilaksanakan selama 14 hari, dimulai tanggal 20 Juli – 03 Agustus 2013 di Kebun Raya Baturaden Kabupaten Banyumas.
C.       Cara Kerja
Praktek Kerja Lapangan dilakukan dengan cara ikut serta dalam kegiatan yang diadakan oleh Kebun Raya Baturraden. Kegiatan yang dilakukan meliputi persiapan, identifikasi tanaman, perawatan dan pendataan tanaman Nephenthes sp. serta proses perbanyakan Nephenthes sp.
1.      Persiapan praktek kerja lapangan
Tahap awal praktek kerja lapangan dengan memperkenalkan lingkungan lokasi. Tahapan pengenalan lokasi sebagai tahap persiapan praktek kerja lapangan. Pengenalan lokasi praktek kerja lapangan meliputi pengenalan seluruh pegawai Kebun Raya Baturraden dan mengunjungi seluruh wilayah konservasi tumbuhan terutama tanaman Nepenthes.
2.      Registrasi Koleksi dan pembibitan
1. Mencatat nomor registrasi yang ada pada tanaman koleksi dan pembibitan
2. Mengamati keadaan tanaman koleksi dan pembibitan
3.      Perawatan tanaman tanaman koleksi dan pembibitan
1.   Penyiraman tanaman koleksi dan pembibitan dilakukan sebagai perawatan rutin agar kelembaban lingkungan selalu terjaga.
2.   Pemberian fungisida dan insektisida jika terjadi serangan hama dan jamur.
3.   Pembersihan Pot dari tanaman gulma.
4.   Pemindahan media jika diperlukan
4.      Perbanyakan Nephenthes sp. dengan cara stek
1.   Tanaman koleksi Nephenthes sp. dikumpulkan dan dikelompokan berdasarkan jenisnya.
2.   Tanaman yang telah cukup umur dipilih dan dipotong dengan ukuran lebih kurang 10cm
3.   Batang bagian bawah Nephenthes sp. diberi larutan Rhotone.
4.   Batang ditancapkan pada polybag dan diberi sungkup plastik.
5.   Tanaman dijaga kelembaban dan diamati.
5.      Perbanyakan Nephenthes sp. dengan cara penanaman biji
1. Menyiapkan Biji Nephenthes yang telah siap tanam.
2. Meyiapkan Baki berisi arang sekam dan taburkan benih Nephenthes sp .
3. Membungkus baki dengan plastik supaya terjaga kelebabannya.
4. Penyiraman dilakukan setiap hari untuk menjaga kelembaban.

klik disini untuk versi lengkap



Sabtu, 21 November 2015

Cara Deskripsi Tumbuhan

Baca buku tentang Taksonomi Tumbuhan dan jadi teringat tugas mendeskripsikan spesies terutama tumbuhan. Sekarang (2015) di Fabio UNSOED kloga salah ganti jadi Sistematika Tumbuhan. Belum tau beda nya apa. Dan bersyukur sudah lulus 4 sks dari mata kuliah itu. NB:sekarang 3 sks 2 mata kuliah. Mabok mabok dah sana para Maba... huahahahahaha.....

Deskripsi Spesies Tumbuhan
Menurut Gembong(1992), terdapat cara yang baik dalam mendeskripsikan suatu spesies tumbuhan. Deskripsi dilakukan supaya tertata dengan metodis dan sistematis. Hal ini akan memudahkan pemakainya. Hal yang perlu dideskripsikan adalah PERAWAKAN TUMBUHAN(HABITUS), AKAR, BATANG, DAUN, ALAT LAIN(misal: MODIFIKASI AKAR, BATANG, DAUN), BUNGA, BUAH DAN BIJI.

1.PERAWAKAN TUMBUHAN(HABITUS)
Hal-hal yang perlu dideskripsikan adalah
a.) Habitus: Pohon, Perdu, Semak, Terna
b.) Umur spesies: Setahun (annual), Dua tahun (biannual), Tanaman menahun
c.) Bagian lain yang berada di dalam tanah selain akar(jika ada) : Umbi(tuber), Rimpang(rhizome), dll
d.) Deskripsi tempat tumbuh (habitat tanaman) : Sepanjang pantai, Tepi sungai, dll

2.AKAR(Radix)
a. Susunan akar : akar tunggang, akar serabut
b.Akar Tunggang
c.Akar Cabang
d.Akar Serabut

3.BATANG(Caulis)

a.) Batang pokok : Ada , Tidak ada
b.) Jarak percabangan dengan tanah: Jauh, Dekat
c.) Akar Banir: Ada , Tidak ada
d.) Cara percabangan: Simpodial, Monopodial
e.) Arah tumbuh: Tegak, Berbaring, Merayap, Memanjat, Membelit, dsb
f.) Bentuk dan sifat lain : Bulat, Persegi, Segitiga
Adanya alat lain (ada ,tidak):  Duri, Bulu, Rambut, Sayap, Rigi-rigi, Bergetah atau tidak,
Dahan dan Cabang dideskripsikan seperti batang

4.DAUN(Folium)
-> Susunan daun: Tunggal*), Majemuk**). Klo majemuk: menjari, menyirip, rangkap atau tidak rangkap genap, gasal, sempurna, atau tidak
Tata letak:berseling, tersebar, berkarang, atau mengikuti suatu rumus
Alat tambahan: daun penumpu, dsb

*)  Klo daun tunggal
upih daun
tangkai daun
helaian
sifat lain
alat tambahan pada helaian

**)klo daun majemuk
ibu tangkai
Cabang tangkai
anak daun

5.ALAT LAIN

6.BUNGA(Flos)
-> Susunan : Tunggal*)  , Majemuk**)
-> Tempat muncul: Di ujung batang, Di ketiak daun
-> Cara penyerbukan: Anemofili, Entomofili, Ortinofili, dsb

*)  Klo bunga tunggal
+Daun pelindung
+Tangkai bunga
+Daun-daun pembalut
+Kelopak tambahan
+Kelopak bunga(Kalyx) daun kelopak (sepal)
+Mahkota bunga(Corolla), daun mahkota (petal)
+Benang sari (Stamen)
-Tangkai sari
-Kepala sari
+Putik
-Bakal buah
-Tangkai putik
-Kepala putik
-Diagram dan rumus bunga

**)klo bunga majemuk: Berbatas ,  tidak berbatas
Bentuk: Bulir, Tandan, Payung, dsb
Tempat, ukuran dsb
Bunga lainnya seperti pada bunga tunggal

7.BUAH(Fructus)
Macam buah : Sejati(fructus nudus), Semu(fructus spurius), Kering, Berdaging, Tunggal, Majemuk, Berganda, nama khusus macam buah tersebut.
Warna (waktu muda,setelah masak)
Dapat dimakan atau tidak

8.BIJI(Semen)
Jumlah biji dalam tiap ruang, bentuk, ukuran, warna, dan sifat lain.

Dan semuanya dijadikan paragraf dengan setiap deskripsi organ di akhiri dengan titik dan dibawahnya lagi titik koma trus koma.
Tapi klo bukan untuk tugas taksonomi misal skripsi ya paling cuma pake koma ma titik.
Misal: Nanti nyari dah

Dan baru ngeh semua setelah hampir lulus... wkwkwkwkwk.... Taksonomi oh taksonomi paling males itu masalah daun dan bunga ribet


DAFTAR PUSTAKA

Gembong Tjitrosoepomo, 1992. Morfologi tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Senin, 16 Februari 2015

Kultur In Vitro Dendrobium sp.

Kultur in Vitro Dendrobium sp.







Oleh
Prasadhana Tungga Dewa    B1J010079



Makalah Tugas Terstruktur Orkhidologi




KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014


I.                PENDAHULUAN

Kultur jaringan merupakan salah satu metode perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan tertua dilakukan pada biji anggrek dengan tujuan untuk mengecambahkannya dalam media yang kaya nutrisi karena biji dari anggrek tidak mempunyai cadangan makanan.Kultur jaringan terus berkembang dari mengkulturkan biji berkembang dengan mengkulturkan jaringan dan terus berkembang hingga mampu mengkulturkan satu sel dari tanaman.

Penggunaan kultur jaringan mempunyai kelebihan yaitu mampu memproduksi bibit yang seragam dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatifr singkat. Oleh karena itu kultur jaringan sering dijadikan solusi sebagai metode perbanyakana tanaman dan juga dapat digunakan sebagai suatu metode penyimpanan plasma nutfah yang tidak membutuhkan temapat yang besar.

Keberhasilan dari kultur jaringan sangat bergantung dari ketepatan konsentrasi nutrisi yang berada di dalam media kultur. Ketepatan konsentrasi ini menyangkut pada ketersediaan nutrisi bagi eksplan tanaman. Kelebihan nutrisi dari tanaman akan menyebabkan tanaman mengalami keracunan unsur hara. Oleh karena itu, pembuatan larutan stock dan sterilisasi media dianggap penting untuk diketahui sebagai sarana penenunjang kebutuhan informasi akan kultur jaringan.

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan jenis flora dan faunanya. Anggrek merupakan famili terbesar yang menempati 7-10% tumbuhan berbunga dan memiliki kurang lebih 20.000 sampai 35.000 jenis (Dressler, 1993), di Indonesia diperkirakan ada 4.000-5.000 jenis (Latif, 1960). Di Jawa areal hutan sudah banyak terkonversi menjadi pemukiman, perkebunan, transportasi, industri dan pembanguan fisik lainnya; sehingga populasi anggrek di alam  mulai terancam. Banyak diantara jenis-jenis anggrek yang waktu lalu banyak dan mudah dijumpai di alam, tetapi sekarang sudah sukar untuk mendapatkan kembali bahkan ada beberapa yang dianggap sudah punah di alam (Whitten, 1992). Hal tersebut disebabkan karena selain kerusakan habitat, juga karena banyak dieksploitasi untuk diperdagangkan.

Dendrobium adalah salah satu kelompok terbesar kedua di antara genus dalam keluarga anggrek (Orchidaceae), kurang lebih 1600 spesies tersebar mulai dari Jepang, Korea, Malaysia, Indonesia, New Guinea dan Australia. Anggrek dendrobium termasuk anggrek epifit memiliki sifat hidup menumpang tetapi tidak merugikan tanaman yang ditumpangi. Akar tanaman anggrek berfungsi sebagai tempat menempelkan tubuh tanaman pada media tumbuh. Akar anggrek epifit mempunyai lapisan velamen yang berongga. Lapisan ini berfungsi untuk memudahkan akar dalam menyerap air hujan yang jatuh di kulit pohon media tumbuh anggrek. Di bawah lapisan velamen terdapat lapisan yang mengandung klorofil. Akar anggrek epifit yang berambut pendek atau nyaris tak berambut. Pada anggrek terestrial (jenis anggrek tanah), akar mempunyai rambut yang cukup rapat dan cukup panjang. Fungsi rambut akar ini adalah untuk menyerap air dan zat organik yang ada di tanah (Iswanto, 2002).

Anggrek dendrobium berbatang ganda yang tumbuh ke samping dari rhizome yang menjalar ke medium tempat tumbuh. Pada ruas-ruas rhizome atau pangkal batang terdapat tunas tidur yang dapat tumbuh menjadi tanaman baru dan batangnya di sebut “bulb” atau pseudobulb (Ginting, 1990). Bentuk daun tanaman anggrek menyerupai jenis tanaman monokotil pada umumnya, yakni memanjang seperti pedang dan ukuran panjang daunya bervariasi. Selain itu, daun juga mempunyai ketebalan berbeda tergantung jenisnya. Anggrek dendrobium yang tumbuh secara simpodial berbunga saat batang semunya telah dewasa dan dengan cadangan makanan yang memadai sehingga pembungaannya terpacu. Begitu selesai mengalami proses pembungaan, segera tumbuh tunas vegetatif baru yang akan berubah menjadi bunga setelah tunas serabut dewasa.
Proses pembungaan dapat terpacu lebih cepat jika jumlah batang semu dan daun dendrobium dewasa sudah cukup banyak (Sandra, 2001). Setelah bunga diserbuki dan dibuahi, sekitar 3-9 bulan kemudian muncul buah yang sudah tua. Kematangan buah sangat tergantung pada jenis anggreknya. Misalnya, pada dendrobium akan matang dalam 3-4 bulan. Pada anggrek vanda, umumnya buah matang setelah 6-7 bulan. Sementara itu, pada anggrek cattleya,  buah baru matang setelah 9 bulan. Buah anggrek merupakan buah lentera, artinya buah akan pecah ketika matang. Bagian yang membuka adalah bagian tengahnya, bukan di ujung atau pangkal buah. Bentuk buah anggrek berbeda-beda, tergantung jenisnya (Iswanto, 2002).


II.              PEMBAHASAN

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.
Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:
1)      Pembuatan media
2)      Inisiasi
3)      Sterilisasi
4)      Multiplikasi
5)      Pengakaran
6)      Aklimatisasi

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas. Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. 
Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).

Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

Kedudukan anggrek Dendrobium dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan menurut Sutiyoso dan Sarwono(2002) sebagai berikut :
Kingdom : Planthae (dunia tumbuhan)
Divisio     : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Subdivisi : Angiospermae (biji tertutup)
Kelas       : Monocotyledonae (biji tunggal)
Ordo        : Orchidales (bangsa anggrek-anggrekan)
Family     : Orchidaceae (keluarga anggrek-anggrekan)
Genus      : Dendrobium
Spesies    : D. bifale, D. macrophyllum, D. affine, D. phalaenopsis

Air kelapa baik digunakan pada media kultur jaringan karena mengandung zat atau bahan-bahan seperti vitamin, mineral, asam-asam amino dan asam nukleat, fosfor serta zat tumbuh auksin dan giberelat yang berfungsi sebagai penstimulir proliferasi jaringan,memperlancar metabolisme dan respirasi. Air kelapa dapat digunakan sebagai pengganti hormon sitokinin.

Pada tingkat konsentrasi tertentu air kelapa dapat menginisiasi terbentuknya tunas. Pemberian air kelapa dengan konsentrasi 150 ml/l adalah sangat efektif meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tunas-tunas samping dan akar. Hal ini dilihat dari rentang munculnya tunas tercepat. Ini diduga karena kandungan sitokinin dalam media perlakuan dengan konsentrasi tersebut lebih tinggi dari auksin sehingga memperlihatkan stimulasi pertumbuhan tunas dan daun. Sehingga meskipun akar keluar tetapi dengan bentuk potongan akar yang berukuran kecil. Hal ini terjadi karena diketahui bahwa, keberadaan auksin berperan sebagai perangsang akar, namun apabila kandungannya rendah maka akar yang muncul akan berukuran kecil.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa air kelapa dengan konsentrasi 100 ml/l merupakan konsentrasi optimal dalam menghasilkan jumlah tunas terbanyak, jumlah akar terbanyak dengan tinggi plantlet tertinggi dan bobot basah terberat. Hal ini diduga, karena adanya kandungan sitokinin dalam air kelapa yang tinggi dibandingan kandungan auksin yang terdapat dalam eksplan, sehingga proses pembelahan sel lebih mengarah ke pembentu-kan tunas-tunas samping atau dapat dikatakan bahwa kandungan sitokinin dalam air kelapa dalam konsentrasi tersebut dikatakan mempengaruhi asam nukleat sehingga berpengaruh terhadap sintesa protein dan pengatur aktivitas enzim dalam hal diferensiasi sel untuk  membentukan tunas plantlet anggrek D. anosmum. (Tuhuteru et. al, 2012)

Morel (1974) dalam Parera (1997), mengatakan bahwa air kelapa mampu menstimulir pembelahan sel  epidermis dan mengarah pada pembentukan protocrom jaringan supaya beregenerasi lebih lanjut dan lebih cepat. Armini et al., (1991), juga menyatakan bahwa perbandingan auksin dan sitokinin yang digunakan mempengaruhi  pembentukan tunas dan akar dalam kultur jaringan. Perbandingan antara sitokinin dan auksin yang tinggi akan mendorong pembentukan tunas, sedangkan  perbandingan sitokinin dan auksin rendah akan mendorong pembentukan akar, sehingga selain meningkatkan jumlah tunas terbanyak juga dapat meningkatkan aktifitas sitokinin yang selanjutnya meningkatkan efektifitas pembelahan sel semakin tinggi, sebab air kelapa adalah endosperm yang kaya akan makanan, maka jika air kelapa tersebut ditambahkan dalam media kultur jaringan, eksplan yang ditanam dapat tumbuh dengan baik.


III.            Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan mengenai kultur in vitro anggrek Dendrobium dapat disimpulkan bahwa:

1.   Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah pembuatan media, inisiasi, sterilisasi, multiplikasi, pengakaran, dan aklimatisasi.
2.   Air kelapa dapat digunakan sebagai pengganti hormon pada medium anggrek.


DAFTAR REFERENSI

Arditti, J. 2010. Plenary Presentation : History of Orchid Propagation. AsPac J.Mol.Biol.Biotecnol. Vol 18 (1) Supplement : 171-174.
Damayanti, E. 2011. Budidaya Tanaman Anggrek. Penerbit Araska. Yogyakarta.
Hendaryono, D.P.S., dan A.Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.
Mantell, S.H., J.A.Matthews, and R.A.McKee. 1985. Principles of Plant Biotechnology – An Iintroduction to Genetic Engineering in Plants. Blackwell scientific Publications. Oxford.
Mursidawati.S. 2007. Asosiasi Mikoriza dalam Konservasi Anggrek Alam. Buletin Kebun Raya Indonesia. Vol 10. No 1.Hal 24-30.
Murti, D. P. 2007. Inventarisasi Anggrek dan Inangnya di Taman Nasional Meru Betiri – Jawa Timur. Biodiversitas (8): 210-214
Tuhuteru, S.  M. L. Hehanussa, S.H.T. Raharjo. 2012. Agrologia(1): 1-12.
Pierik, R.L.M. 1987. In Vitro Culture of Higher Plants. Martinus Nijhoff Publishers. Netherlands.

Purwantoro,A., Erlina Ambarwati dan Fitria Setyaningsih. 2005. Kekerabatan Antar Anggrek Spesies Berdasarkan Sifat Morfologi Tanaman Dan Bunga. Ilmu Pertanian (12):1 - 11

Kamis, 12 Februari 2015

POTENSI ANGGREK SEBAGAI TANAMAN OBAT

POTENSI ANGGREK SEBAGAI TANAMAN OBAT


Oleh

                          Ade Ayu Nuranini                        B1J011009
                          Yuli Wulandari                             B1J010071
                          Prasadhana Tungga Dewa           B1J010079



Makalah Tugas Terstruktur Orkhidologi




KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014


I.                Pendahuluan


Anggrek adalah kelompok yang paling banyak di alam dari tanaman berbunga dan memiliki tersebar di seluruh dunia dari daerah tropis ke  daerah alpine yang tinggi . Anggrek menunjukkan berbagai keanekaragaman dalam ukuran, bentuk dan warna bunga mereka. Meski secara umum tumbuh sebagai tanaman hias , banyak juga yang digunakan sebagai obat herbal dan makanan. Anggrek memiliki nilai budaya di berbagai suku dan budaya di berbagai belahan dunia . Anggrek telah digunakan di berbagai belahan dunia dalam sistem pengobatan tradisional serta dalam pengobatan sejumlah penyakit sejak zaman kuno. Meskipun Orchidaceae dianggap sebagai keluarga terbesar dari kerajaan tanaman , beberapa studi telah dilakukan mengenai sifat obat mereka. Menghubungkan pengetahuan asli anggrek obat untuk kegiatan penelitian modern memberikan pendekatan baru yang handal , untuk penemuan obat baru, jauh lebih efektif daripada dengan hanya percobaan acak dari koleksi. Banyak dari anggrek jenis ini menghadapi bahaya ekstrim kepunahan karena eksploitasi berlebihan dan hilangnya habitat (Pant, 2013).

Pada beberapa abad yang lalu, anggrek mempunyai peran penting dalam pengembangan teknik pengobatan herbal yang menggunakan bahan dari tumbuh-tumbuhan. Penggunaan obat tradisional dengan bahan tanaman Anggrek telah digunakan dalam pengobatan tradisional dalam upaya untuk mengobati banyak penyakit. Mereka telah digunakan sebagai sumber obat herbal di Cina sejak 2800 SM. Gastrodia elata adalah salah satu spesies anggrek dari genus Gastrodia adalah salah satu dari tiga jenis anggrek yang tercantum dalam Materia Medica yang  pertama dikenal di Cina sebagai jenis anggrek yang digunakan untuk pengobatan(Shennon bencaojing).


II.              PEMBAHASAN


Orchidaceae dianggap sebagai keluarga terbesar dari kerajaan tumbuhan terdiri dari 25,000-35,000 spesies. Studi mengenai sifat obat mereka sangat terbatas. Informasi sebatas nilai-nilai obat anggrek mengenai sifat terapeutik. Kompilasi informasi mengenai efek obat sangat penting untuk memberikan acuan bagi pengembangan obat banyak penyakit  saat ini. Sebagai contoh, terdapat beberapa anggrek dari subtribe Dendrobiinae telah digunakan secara ekstensif sebagai obat dan suplemen kesehatan di Cina dan sekitarnya. Shih – Hu (Obat yang menggunakan bahan dasar puluhan jenis Dendrobium-khususnya Dendrobium nobile) menyandang predikat obat yang berharga dan telah digunakan semenjak zaman Dinasti Han (200 SM). Beberapa spesies Dendrobium yang bersangkutan telah dibudidayakan untuk dikirim ke daerah dimana banyak terdapat komunitas Etnik Tionghoa yang tersebar di seluruh dunia, sementara Dendrobium moniliforme masih mengandalkan kiriman dari Jepang. Shih – Hu artinya ‘Batu Kehidupan’, mengacu kepada tanaman tersebut yang memiliki sifat tahan suhu dingin dan menguatkan yang sesuai dengan doktrin ketimuran dimana suatu sifat ke’obat’an tanaman tersebut harus sesuai dengan karakteristiknya. Secara tradisional digunakan sebagai tonik untuk memperkuat sistem yin yang berhubungan dengan umur panjang dan kejantanan. Dendrobium nobile mengandung beberapa alkaloid, salah satunya adalah dendrobine yang mengendalikan dan memicu aktifitas farmalogikal.
Di Papua Nugini daun dari Dendrobium sp. digunakan untuk meredakan batuk dan juga beberapa spesies dari seksi Monanthos digunakan untuk menghentikan pendarahan dalam. Orang India menggunakan Dendrobium monticola dan Dendrobium ovatum untuk menghaluskan kulit, sementara Dendrobium moschatum digunakan untuk mengobati sakit telinga. Dendrobium bifarium, Dendrobium planibulbe, dan Dendrobium purpureum digunakan sebagai obat untuk berbagai macam penyakit kulit di Indonesia. Dendrobium crumenatum digunakan sebagai obat untuk sakit telinga dan peradangan pada telinga di Malaysia dan Jawa. Di Queensland dikenal Dendrobium discolor sebagai obat infeksi dan minyak gosok untuk infeksi cacing gelang. Dendrobium hymenanthum digunakan untuk menggunakan penyakit edema / busung air di daerah Malaysia bagian barat. Dendrobium subulatum digunakan di Malaysia untuk meredakan sakit kepala, dan di Tahiti daun Dendrobium crispatum yang telah dimemarkan digunakan untuk menghilangkan sakit kepala dan sakit akut. Dendrobium taurinum di Philipina digunakan untuk mengatasi kerontokan. Beberapa jenis anggrek juga digunakan sebagai obat kejantanan seperti Dendrobium acinaforme di Ambon, Dendrobium chryseum di India, Dendrobium moniliforme di Taiwan dan Korea, dan Dendrobium nobile di Cina.
Batang berdaging yang kaya mukopolisakarida mirip dengan dua spesies dengan morfologi dan obat sifat penting, Dendrobium officinale, dan Dendrobium huoshanense, menunjukkan Dendrobium wangliangii mungkin memiliki nilai obat tinggi yang dikonfirmasi oleh fakta bahwa penduduk setempat mengumpulkan untuk keperluan pengobatan. Selain itu, tanaman memiliki nilai hias tinggi karena bunga-bunga merah muda yang besar dan mencolok yang sangat menarik dibandingkan dengan berdaging kecil batang (Zhao, D., 2013)


III.            KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.     Terdapat Anggrek yang memiliki efek obat, seperti Dendrobium monticola dan Dendrobium ovatum untuk menghaluskan kulit, Dendrobium purpureum digunakan sebagai obat untuk berbagai macam penyakit kulit, Dendrobium crumenatum digunakan sebagai obat untuk sakit telinga dan peradangan pada telinga, Dendrobium discolor sebagai obat infeksi dan minyak gosok untuk infeksi cacing gelang, Dendrobium hymenanthum digunakan untuk menggunakan penyakit edema / busung air, Dendrobium subulatum digunakan untuk meredakan sakit kepala, dan Dendrobium taurinum digunakan untuk mengatasi kerontokan.
2.     Anggrek yang memiliki efek obat terancam punah karena aktivitas manusia dan berkurangnya habitat.



DAFTAR REFERENSI

Hias, F.Rahardi, Sri Wahyuni, Eko M. Nurcahyo. 1993. Agribisnis Tanaman. Jakarta: Penerbar Swadaya

Osman, Fiyanti, dan Indah P. 1989. Anggrek Dendrobium. Jakarta: Penebar Swadaya IKAPI.

Pant, Bijaya. 2013. Medicinal orchids and their uses: Tissue culture apotential alternative for conservation. African Journal of Plant Science 7(10): 448-467

Sutarni M. Soeryowinoto, Merawat Anggrek , Jakarta: Penerbit Yayasan Kanisius,

Zhao, D., Guangwan H., Zhiying C., Yana S., Li Z., Anjun T. and Chunlin Lo. 2013. Micropropagation and in vitro flowering of Dendrobium wangliangii: A critically endangered medicinal orchid. Journal Medical Plants Research 7(28): 2098-2110